MAKALAH
EVALUASI
PEMBELAJARAN
“TAKSONOMI
TUJUAN PEMBELAJARAN”
Oleh
Kelompok 4 Matematika 3A :
1. Akroun
Nafiani ( 13321747)
2. Mustika
Rahmawati (13321683)
3. Takrim
Arrijal A’na (13321700 )
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH
PONOROGO
TAHUN AKADEMIK 2014/2015
KATA
PENGANTAR
Puji syukur kami panjatkan kehadirat
Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya
lah kami dapat menyelesaikan makalah Evaluasi Pendidikan dengan judul “
Taksonomi Tujauan Pembelajaran “ ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang
dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Intan Sari Rufiana, M.Pd
selaku Dosen mata kuliah Evaluasi Pendidikan yang telah memberikan tugas
ini.
Kami sangat berharap
makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita
tentang pengklasifikasian tujuan pembelajaran. Kami juga menyadari sepenuhnya
bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari apa yang telah
harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan
di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran
yang membangun. Semoga penelitian ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi
siapapun yang membacanya.
Ponorogo , 30 September 2014
PENULIS
PENULIS
DAFTAR
ISI
KATA
PENGANTAR
......................................................................................i
DAFTAR
ISI
.....................................................................................................ii
BAB
1 PENDAHULUAN
A. LATAR
BELAKANG .....................................................................1
B. RUMUSAN
MASALAH
.................................................................2
BAB
11 PEMBAHASAN
A.
PENGERTIAN
TAKSONOMI (BLOOM)
.................................3
B.
PERBEDAAN REVISI TAKSONOMI (BLOOM).....................4
C.
TUJUAN PEMBELAJARAN TAKSONOMI (BLOOM)
1. RANAH KOGNITIF ..........................................................5
2. RANAH AFEKTIF.............................................................8
3. RANAH PSIKOMOTORIK ..............................................10
BAB
111 PENUTUP
A.
KESIMPULAN
……………………………………………….…14
B.
SARAN
...........................................................................................15
DAFTAR
PUSTAKA .....................................................................................16
BAB
I
PENDAHULUAN
A. BELAKANG MASALAH
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat
setrategis dalam meningkatkan sumber daya manusia dan upaya mewujudkan
cita-cita bangsa indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan
kehidupan bangsa. Usaha untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia
melalui pendidikan perlu mendapat perhatian khusus. Undang-undang Pendidikan
No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berfungsi
mengembangkan kemampuan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat
dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk mengembangkan
potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa berakal mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan
menjadi warga negara yang demokratis dan peka terhadap tantangan zaman. Jadi
jelaslah pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak
didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan
harus diselengggarakan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan UU
No. 20/ 2003.
Kegiatan belajar merupakan proses pendidikan di
sekolah. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan
banyak bergantung kepada bagaimana pencapaian taksonomi pendidikan yang dialami
siswa yang mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotorik. Dalam suatu
lembaga pendidikan keberhasilan proses belajar mengajar dapat di lihat juga
dari prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik. Pendapat ini diungkapkan
Fatimah (2011: 95) dalam majalah ilmiah mengatakan dalam konteks pembelajaran
ada beberapa tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui prestasi belajar
siswa. Salah satu tolak ukur yang digunakan adalah prestasi belajar yang
mengacu pada pencapaian taksonomi pendidikan yang mencangkup aspek
kognitif,afektif, dan psikomotorik. Salah satu upaya yang menjadikan seseorang
berprestasi adalah melakukan kegiatan yang berkelanjutan. Artinya, setelah
seseorang menyadari potensi dirinya disuatu bidang maka ia akan terus menerus berusaha
untuk mengembangkannya menjadi kemampuan utama. Seperti yang dikemukakan Dahlan
(2008: 59) menyatakan prestasi adalah hasil dari usaha mengembangkan bakat
secara terus menerus. Hasil belajar tersebut merupakan prestasi belajar peserta
didik yang dapat diukur dari nilai siswa setelah mengerjakan soal yang
diberikan oleh guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan pembelajaran
disekolah akan terwujud dari keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan siswa
dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari
luar individu. Menurut Ahmadi (2004: 138) prestasi belajar yang dicapai
seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik
dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal)
individu. Faktor dari dalam individu, meliputi faktor fisik dan psikis,
diantaranya adalah minat siswa.
Minat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan
oleh siswa secara tetap dalam melakukan proses belajar. Sesuia dengan pendapat
Menurut Slameto (2010: 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk
memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa,
diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa
kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan
pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki
minat terhadap kegiatan tertentu cenderung memberikan perhatian yang besar
terhadap kegiatan tersebut. Tentunya dalam melaksanakan kegiatan dan usaha pencapaian
tujuan perlu adanya pendorong untuk menumbuhkan minat yang dilakukan oleh guru,
semangat pendidik dalam mengajar siswa berhubungan erat dengan minat siswa yang
belajar. Apabila guru mempunyai semangat untuk memperhatikan dan memengenang
kegiatan mengajar akan sangat mempengaruhi minat siswa terhadap materi yang
diajarkan. Seorang guru tidak dapat membangkitkan minat siswa, jika guru
tersebut tidak memiliki minat dalam memberikan materi pelajaran.
B. RUMUSAN MASALAH
1. Apakah
pengertian taksonomi (bloom) ?
2. Apakah perbedaan taksonomi (bloom) dan revisi taksonomi
(bloom) ?
3. Apa tujuan pembelajaran menurut taksonomi (bloom) ?
BAB II
PEMBAHASAN
A. PENGARTIAN TAKSONOMI (BLOOM)
Kata
“taksonomi” diambil dari bahasa yunani “tassein” yang berarti untuk
mengelompokan dan “nomos” yang berati aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai
pengelompokan suatu hal berdasrkan hieraki (tingkatan) tertentu. Dimana
taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah
besifat lebih spesifik.
Dalam biologi, taksonomi juga merupakan cabang ilmu tersendiri yang
mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup. Sistem yang
dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature, yang diusulkan oleh Carl von Linne
(Latin: Carolus Linnaeus), seorang naturalis berkebangsaan Swedia. Ia memperkenalkan enam hierarki (tingkatan) untuk mengelompokkan makhluk
hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut dari tingkatan
tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik) adalah :
Dalam
cabang ilmu tanah (pedologi),
taksonomi tanah
dibuat berdasarkan sejumlah variabel
yang mencirikan keadaan suatu jenis tanah.
Karena klasifikasi awal tidak sistematis, pada tahun 1975 tim dari 'Soil Survey
Staff' dari Departemen Pertanian Amerika Serikan (USDA)
menerbitkan suatu kesepakatan dalam taksonomi tanah. Sejak saat itu, setiap
jenis tanah paling sedikit memiliki dua nama. Meskipun nama baru sudah
diberikan, nama lama seringkali masih dipakai karena aturan dari Soil Survey
Staff dianggap terlalu rinci.
Dapat disimpulkan bahwa
dalam pendidikan, taksonomi dibuat
untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan
dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan
psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori
dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah
laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku
dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat
yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh
Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956,
sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom". Jadi
taksonomi (bloom) adalah pengklasifikasian tujuan pendidikan
dengan menyajikannya dalam bentuk hirarki. Tujuan penyajian ke dalam bentuk
system klasifikasi hirarki ini dimaksudkan untuk mengkategorisasi hasil
perubahan pada diri siswa sebagai hasil buah pembelajaran. Menurut Bloom perilaku individu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga)
ranah, yaitu:
1. Ranah kognitif; ranah
yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dalamnya
mencakup: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension),
penerapan (application), penguraian (analysis), memadukan (synthesis),
dan penilaian (evaluation)
2. Ranah afektif; ranah
yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan
terhadap moral dan sebagainya, di dalamnya mencakup: penerimaan (receiving/attending),
sambutan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization),
dan karakterisasi (characterization)
3. Ranah psikomotor; ranah yang
berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf
dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ranah ini terdiri dari : kesiapan (set), peniruan (imitation),
membiasakan (habitual), menyesuaikan (adaptation) dan menciptakan
(origination). Taksonomi ini merupakan kriteria yang dapat digunakan
oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya.
B.
PERBEDAAN
REVISI TAKSONOMI (BLOOM)
Pada 1990-an, Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom karena mencerminkan
berbagai bentuk pemikiran yang merupakan proses aktif yang membutuhkan kata
kerja yang lebih akurat. Pada awalnya Bloom mengklasifikan
tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman
(comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation)
dalam satu dimensi, maka Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu
proses dan isi/jenis.
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge). Tingkat taksonomi Lorin Anderson sebagai berikut ( Pickard , 2007) :
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge). Tingkat taksonomi Lorin Anderson sebagai berikut ( Pickard , 2007) :
1. Mengingat : kemampuan siswa untuk mengingat
atau mengingat informasi
2. Memahami : kemampuan untuk menjelaskan
ide-ide atau konsep
3. Menerapkan : kemampuan untuk menggunakan
informasi dengan cara baru
4. Menganalisis : kemampuan untuk membedakan antara
bagian yang berbeda
5. Mengevaluasi : kemampuan untuk membenarkan sikap
atau keputusan
6.
Menciptakan : kemampuan untuk menciptakan
produk baru atau sudut pandang
Jadi perbedaan taksonomi (bloom) dengan revisi taksonomi (bloom) terletak
pada pengklasifikasian tujuan dari taksonominya.
C. TUJUAN PEMBELAJARAN TAKSONOMI (BLOOM)
Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras
dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai. Taksonomi
Bloom merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari B.S
Bloom Editor M.D Engelhart, E Frust, W.H. Hill dan D.R Krathwohl, yang kemudian
di dukung oleh Ralp W. Tyler. Bloom merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3
tingkatan yaitu
:
1. Ranah
kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang
mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut
aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif. Ranah kognitif
berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal,
memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Tujuan
aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan
intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan
memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan
beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan
masalah tersebut.
Dengan demikian aspek kognitif adalah
subtaksonomi yang mengungkapkan
tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke
tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Masalah afektif dirasakan penting
oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan
merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti
pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang
kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat
dicapai. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses
berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi.
Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
· Pengetahuan:
mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam
ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah, dan prinsip, serta metode
yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat
dibutuhkan melalui bentuk ingatan yang mengingat (recall) atau mengenal kembali
(recognition). Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “
siswa akan mampu menyebutkan nama semua sekretaris jendral PBB, sejak saat PBB mulai
berdiri”, “siswa akan mampu menulis semua nama provinsi ditanah Indonesia,
padapeta perbatasan daerah-daerah provinsi”.
· Pemahaman:
mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari.
Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan,
mengubah data yang disajikan dlam bentuk tertentu kedalam bentuk lain, seperti
rumus matematika kedalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang
kecenderungan yang Nampak dalma data tertentu seperti dalam grafik. Kemampuan
ini setingkat lebih tinggi dari pada kemampuan (1). Misalnya, TIK yang untuk
sebagian dirumuskan sebagai berikut: “ siswa akan mampu menguraikan, dalam
kata-kata sendiri, garis-garis besar dalam nakah bahasa inggris”, “siswa akan mampu meperkirakan jumlah
kecelakaan lalu lintas selama lima tahun yang akan dating, berdasarkan data
dalam grafik kecelakan lalu lintas selama lima tahun yang lalu, kalau situasi
lalu lintas tetap sama”.
· Penerapan:
mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu
khasus atau problem yang kongkrit
dan baru. Adanya kemampuan dinyataka dalam aplikasi suatu metode kerja pada
pemecahan problem baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari pada
kemampuan (2), karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk
menerapkannya terhadap suatu khasus atau problem baru. Misalnya, TIK yang untuk
sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu menghitung jumlah liter
cat yang dibutuhkan untuk mencat semua dinding disuatu ruang dan jumlah uang
yang harus dikeluarkan. Data mengenai ukuran-ukuran ruang, kuantitas cat yang
diperlukan untuk setiap m3 dan hardga cat perkaleng @2liter,
disajikan”.
· Analisis:
mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian,
sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik.
Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau
komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan atau relasi antara semua
bagian itu. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (3), karena
sekaligus harus ditangkap adanya kesamaan dan adanya pebedaan antara sejumlah
hal. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan
mampu menempatkan suatu kumpulan bunga berjumlah 20 kuntum dalam empat
kategori, menurut pilihannya sendiri”.
· Sintesis:
mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian
dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru. Adanya
kemampuan ini dinyatakan dalam membuat suatu rencana, seperti penyusunan satuan
pelajaran atau proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema
dasarsebagai pedoman dalam memberikan ceramah dan lain sebagainya kemampuan ini
setingkat lebih daripada kemampuan (4), karena dituntut kriteria untuk
menemukan pola dan struktur organisasi. Misalnya, TIK yang untuk sebagian
dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu memberikan uraian lisan tentang
perlunya penataan P4, dengan berpegang pada suatu kerangka yang mengandung
pembukaan, inti, ringkasan pembahasan dan kesimpulan”; “mahasiswa akan mampu
menghasilkan dan merumuskan suatu hipotesis penelitian, berdasarkan sejumlah
data tentang siswa yang drop-out disekolah dasar”.
· Evaluasi:
mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau
beberapa hal, bersama dengan pertanggung jawaban pendapat itu, berdasarkan
criteria tertentu. Kemampuan itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap
sesuatu, seperti penilaian terhadap penguguran kandungan berdasarkan norma
moralitas, atau pernyataan pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilat
tepat-tidaknya perumusan suatu TIK, berdasarkan criteria yang berlaku dalam
perumusan TIK yang baik. Kemampuan ini adalah tingkatan tertinggi, kaena
mencakup semua kemampuan dalam (1) sampai (5). Misalnya TIK yang dirumuskan
sebagai berikut :”mahasiswa FIP akan mampu mengandalkan evaluasi tertulis,
terhadap contoh-contoh perumusan TK yang dberikan dalam (1) sampai (5) diatas ,
berdasarkan criteria yang berlaku bagi perumusan TIK yang baik.
2. Ranah
afektif
Ranah afektif adalah ranah yang
berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti
perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap
seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan
kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada
peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata
pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata
pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak
mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa
hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya. Beberapa tingkatan dalam ranah afektif adalah sebagai
berikut:
· Penerimaan
: mencakup kepekaan akan adanya suatu
perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku
pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan itu dinyatakan
dalam memperhatikan sesuatu, seperti memandang gambar yang dibuat dipapan tulis
atau mendengarkan jawaban teman sekelas atas pertanyaan guru. Namun perhatian
itu masih pasif. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut:
“siswa akan rela memandangi pata geografi tanah Indonesia yang dipamerkan
didepan kelas”.
· Partisipasi:
mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam
suatu kegiatan. Kesediaan itu dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap
rangsangan yang disajikan, seperti membacakan dengan suara nyaring bacaan ang
ditunjukan atau menunjuan minat dengan membawa pulang buku bacaan yang
ditawarkan. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut:
“siswa akan rela berpartisipasi dalam upacara kenaikan bendera,dengan berdiri
tegak dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan volume suara penuh.
· Penilaian:
mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri
sesuai dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap: menerima, menolak atau
mengabaikan; sikap itu dinyatakan dalam timgkah laku yang sesuai dan konsisten
dengan sikap batin. Kemampuan itu dinyatakan dalam suatu perkataan atau
tindakan, seperti mengungkapakan pendapat positif tentang pameran lukisan
modern (apresiasi seni) atau mendatangi ceramah disekolah, yang diberikan oleh
astronot Indonesia yang pertama. Perkataan atau tindakan itu tidak hanya sekali saja, tetapi diulang kembali
bila kesempatanya timbul; dengan demikian, nampaklah adanya suatu sikap
tertentu. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut “Siswa
akan menunjukan sikap positif terhadap belajar kelompok, dengan cara
mempersiapkan sejumlah pertanyaan secara tertulis, mendatangi pertemuan
kelompok secar rutin dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar”.
· Organisasi
:mencakup kemampuan untuk membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan
pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada
suatu skala nilai: mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana tidak
begitu penting. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat
nilai, seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar kebebasan dan tangung
jawab dalam suatu Negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan atas dasar
kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup. Misalkan, TIK yang untuk sebagian
dirumuskan sebagai berikut: ” mahasiswa akan mampu menguraikan, secara
tertulis, bentuk keseimabangan yang wajar antara kewajiban pimpinan sekolah
untuk untuk mengatur kurikulum sekolah
menurut kebuutuhan setempat dan kewajiban pimpinan sekolah untuk melaksanakan
GBPP yang ditetapkan secara nasional”. Organsasin mengandung unsure kognitif
sebagai dasar untuk bertindak.
· Pembentukan
pola hidup : mencakup kemampuan untuk mengahayati nilai-nilai kehidupan sedemikian
rupa , sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan
nyata dan jelas dalam mengatur kehidupanya sendiri. Orang telah memiliki suatu
perangkat nilai yang jelas hubunganya satu sama lain, yang menjadi pedoman
dalam bertindak dan konsisten selama kurun waktu cukup lama. Kemampuan itu
dinyatakan dalam pengaturan hidup diberbagai bidang, seperti mencurahkan waktu
secukupnya pada tugas belajar/bekerja tugas membina kerukunan keluarga, tugas
beribadah, tugas menjaga kesehatan dirinya sendiri dan lain sebagainya.
Kemampuan yang demikian ini, kiranya sulit untuk dituangkan untuk suatu TIK,
karena mengandung unsure kebiasaan yang baru dibentuk setelah waktu yang cukup
lama, misalnya kemampuan untuk menunjukan kerajinan, ketelitian dan disiplin
dalam kehidupan pribadi. Harus diakui bahwa penggolongan ini masih bertumpang
tindih diantara tahap dan dengan ranah kognitif, dan cenderung mengikuti
fase-fase dalam perkembangan moral seorang anak darikecil sampai dewasa.
3. Ranah
psikomotorik
Ranah psikomotor merupakan ranah yang
berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang
menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang
berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari,
memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh
Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam
bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar
psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif
(memahami sesuatu) dan hasil belajar
afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotorik ini dikembangkan oleh simpson yang
terdiri dari beberapa tingkatan antara lain:
· Presepsi
: mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua
perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara cir-ciri fisik yang khas
pada masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu
reaksi yang menunjukan keasadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan
perbedaan antara seluruh rangsangan yang ada, seperti dalam menyisihkan benda
yang berwarna merah dari yang berwarna hijau. Misalnya, TIK yang untuk sebagian
dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu membedakan antara bentuk huruf d
dan g atau antara angka 6 dan 9, yang ditulis di papn tulis
· Kesiapan
: mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu
gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan
jasmani dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakan
kendaraan yang ditumpangi, setelah menunggu beberapa lam didepan lampu lintas
yang berwarna merah. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai
berikut: “siswa akan mampu mengambil posisi tubuh yang tepat, sebelum
meninggalkan garis start dalam perlombaan lari cepat”.
· Gerakan
terbimbing : mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik,
sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam
mengerakan anggota tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau
diperdengarkan, seperti dalam meniru urutan gerakan tarian atau dalam meniru
suara bayi. Misalnya, TIK yang dirumuskan sebagai berikut: “Siswa akan mampu
membuat lingkaran diatas kertas secara tepat dngan mengunakan sebuah jangka;
sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru dipapan tulis”
· Gerakan
yang terbiasa : mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik
dengan lancer, karena sudah dilatih secukupnya, tsnps memperhatikan contoh yang
diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakan anggota/ bagian tubuh,
sesuai dengan prosedur yang tepat, seperti dalam mengerakan kaki, lengan dan
tangan secara terkoordinasi. Misalnya, TIK yang dirumuskan sebagai berikut: “
siswa akan mampu melompat dan menitipkan boal volley dalam net selama 10 menit,
dengan membuat kesalahan maksimal 5 kali”.
· Gerakan
kompleks: mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, adanya
kemampuan ini dinyatakan dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan yang
berurutan dan mengabungkan beberapa sub keterampilan menjadi suatu keseluruhan
gerak-gerik yang teratur, seperti dalam mmbongkar mesin mobil dalam
bagian-bagiannya dan memasangkan kemvbali. Misalnya, TIK yang dirumuskan
sebagai berikut: “Siswa akan mampu membuat sebuah sekrup yang panjangnya 3 cm
dan tebalnya ¼ cm, dalam waktu setengah jam, dengan menggunakan mesin listrik
di bengkel”.
· Penyesuaian
pola gerakan : mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian
pola geraik-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukan suatu taraf
keterampilan yang telah mencapai kemahiran, misalnya seorang pemain tenis yang
menyesuaikan pola permainannya dengan gay bermain dari lawanya atau dengan
kondisi lapangan. Taraf kemahiran ini jarang akan tercapai dalam mengajar satu
TIK saja.
· Kreatvitas
: mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak-gerik yang baru, seeluruhnya atas dasar prakarsa dan
inisiatif sendiri. Hanya sosok orang yang berketrampilan tinggi dan berani
berpikir kreatif , akan mampu mencapai tingakt kesempurnaan ini, seperti
kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian dilapisan es dengan
diiringi musik instrumental.
Selain
sympson, Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa
hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap yaitu :
·
Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan
sederhana dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya. Contohnya, seorang peserta didik dapat
memukul bola dengan tepat karena pernah melihat atau memperhatikan hal yang
sama sebelumnya.
·
Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan
sederhana yang belum pernah dilihat tetapi berdasarkan pada pedoman atau
petunjuk saja. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan
tepat hanya berdasarkan pada petunjuk guru atau teori yang dibacanya.
·
presisi adalah kemampuan melakukan
kegiatan-kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang
tepat. Contoh, peserta didik dapat mengarahkan bola yang dipukulnya sesuai
dengan target yang diinginkan.
·
artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan
yang komplek dan tepat sehingga hasil kerjanya merupakan sesuatu yang utuh.
Sebagai contoh, peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan
cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam hal ini,
peserta didik sudah dapat melakukan tiga kegiatan yang tepat, yaitu lari dengan
arah dan kecepatan tepat serta memukul bola dengan arah yang tepat pula.
·
naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan
secara reflek, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas
kerja tinggi. Sebagai contoh tanpa berpikir panjang peserta didik dapat
mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai
dengan target yang diinginkan.
Selain
beberapa aspek diatas keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh minat belajar
siswa. Minat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara
tetap dalam melakukan proses belajar. Sesuai dengan pendapat Menurut Slameto (2010:
57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang
beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus
yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan
minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas,
tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki minat terhadap kegiatan
tertentu cenderung memberikan perhatian yang besar terhadap kegiatan tersebut.
Tentunya dalam melaksanakan kegiatan dan usaha pencapaian tujuan perlu adanya
pendorong untuk menumbuhkan minat yang dilakukan oleh guru, semangat pendidik
dalam mengajar siswa berhubungan erat dengan minat siswa yang belajar. Apabila
guru mempunyai semangat untuk memperhatikan dan memengenang kegiatan mengajar
akan sangat mempengaruhi minat siswa terhadap materi yang diajarkan. Seorang
guru tidak dapat membangkitkan minat siswa, jika guru tersebut tidak memiliki
minat dalam memberikan materi pelajaran matematika.
BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa
Taksononomi ialah yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan sehari- hari yang
di maksud pendidikan sehari-hari ialah pendidikan dalam bentuk tingkah laku. Ada tiga
macam tingkah laku yang kita kenal secara umum yaitu :
1.
Kognitif
2.
Afektif
3.
Prikomotor.
Dari ketiga
inilah muncul pengertian taksonomi yang kemudian dirumuskan oleh Benjamin
S.Bloom yang kita kenal sekarang dengan sebutan taksonomi Bloom. Dalam hal ini
Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan
setiap domain tersebut dibagi kembali kedalam pembagian yang lebih rinci
berdasarkan hirarkinya.
Belajar yang dilaksanakan oleh siswa
diharapkan dapat mengembangkan prestasi belajar siswa tersebut, Karena prestasi
merupakan tolak ukur pencapaian aspek-aspek yang bersifat kongnitif, afektif
dan psikomotorik sesuai dengan pendapat Fatimah (2011: 95) dalam majalah ilmiah
mengatakan “dalam konteks pembelajaran ada beberapa tolak ukur yang dapat
digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Salah satu tolak ukur yang
digunakan adalah prestasi belajar yang mengacu pada pencapaian taksonomi
pendidikan yang mencangkup aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik”. Dan dipertegas
oleh Nana Sudjana dalam Fatimah (2011: 95) menyatakan bahwa pencapaian prestasi
belajar atau hasil belajar siswa merujuk pada pencapaian aspek-aspek yang
bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ditinjau dari segi aspek
perubahan yang ingin dicapai, prestasi belajar setidaknya dapat dideskripsikan
menjadi beberapa aspek pengetahuan atau
pemahaman, aspek keterampilan, aspek nilai dan aspek sikap. Prestasi belajar
yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi antar lingkungan, keluarga dan
masyarakat.
B. SARAN
1. Bagi siswa
Bagi
siswa khususnya, diharapkan untuk dapat memahami pengklasifikasian pembelajaran
secara kognitif, afektif, dan psikomotirik agar siswa mampu merealisasikan
kedalam proses belajar mengajar.
2. Bagi guru
Guru
dihendaknya dapat mengetahui minat belajar siswa dalam belajar sedini mungkin,
sebagai langkah awal membina dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi peneliti berikutnya
Untuk dapat
mengembangkan permasalahan yang ada mengenai taksonomi dalam pemndidikan dengan
lebih banyak bahan sebagai rujukan, sehingga informasi-informasi tersebut dapat
dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya pendidik dalam meningkatkan taraf
pandidikan.
DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Formatif
2(2): 122-131 ISSN: 2088-351X / Roida E.F.S. /
PENGARUH MINAT DAN
KEBIASAAN BELAJAR SISWA
TERRHADAP
PRESTASI BELAJAR
Majid
Abdul, (2013), PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENGEMBANGKAN STANDAR KOMPETENSI GURU,
Bandung : Rosda
