Selasa, 31 Maret 2015

MAKALAH EVALUASI PEMBELAJARAN "TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN"

MAKALAH
EVALUASI PEMBELAJARAN
“TAKSONOMI TUJUAN PEMBELAJARAN”

 








                                                                                                                                                                               

Oleh Kelompok 4 Matematika 3A   :

1.      Akroun Nafiani                 ( 13321747)
2.      Mustika Rahmawati          (13321683)
3.      Takrim Arrijal A’na         (13321700 )
               

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PONOROGO
TAHUN AKADEMIK 2014/2015




KATA PENGANTAR
            Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa karena dengan rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya lah kami dapat menyelesaikan makalah Evaluasi Pendidikan dengan judul “ Taksonomi Tujauan Pembelajaran “ ini sebatas pengetahuan dan kemampuan yang dimiliki. Dan juga kami berterima kasih pada Ibu Intan Sari Rufiana, M.Pd selaku Dosen mata kuliah Evaluasi Pendidikan yang telah memberikan tugas ini.            
 Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah wawasan serta pengetahuan kita tentang pengklasifikasian tujuan pembelajaran. Kami juga menyadari sepenuhnya bahwa di dalam tugas ini terdapat kekurangan dan jauh dari apa yang telah harapkan. Untuk itu, kami berharap adanya kritik, saran dan usulan demi perbaikan di masa yang akan datang, mengingat tidak ada sesuatu yang sempurna tanpa saran yang membangun. Semoga penelitian ini dapat dipahami dan bermanfaat bagi siapapun yang membacanya.








Ponorogo , 30 September 2014


PENULIS







DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ......................................................................................i
DAFTAR ISI .....................................................................................................ii
BAB 1 PENDAHULUAN
A.    LATAR BELAKANG .....................................................................1
B.     RUMUSAN MASALAH .................................................................2
BAB 11 PEMBAHASAN
A.    PENGERTIAN TAKSONOMI (BLOOM) .................................3
B.     PERBEDAAN REVISI TAKSONOMI (BLOOM).....................4
C.    TUJUAN PEMBELAJARAN TAKSONOMI (BLOOM)
1.      RANAH KOGNITIF ..........................................................5
2.      RANAH AFEKTIF.............................................................8
3.      RANAH PSIKOMOTORIK ..............................................10
BAB 111 PENUTUP
A.    KESIMPULAN ……………………………………………….…14
B.     SARAN ...........................................................................................15
DAFTAR PUSTAKA .....................................................................................16

 BAB I
PENDAHULUAN
A. BELAKANG MASALAH
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat setrategis dalam meningkatkan sumber daya manusia dan upaya mewujudkan cita-cita bangsa indonesia dalam mewujudkan kesejahteraan umum dan mencerdaskan kehidupan bangsa. Usaha untuk meningkatkan pembangunan sumber daya manusia melalui pendidikan perlu mendapat perhatian khusus. Undang-undang Pendidikan No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional yang berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk watak dan peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa berakal mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis dan peka terhadap tantangan zaman. Jadi jelaslah pendidikan merupakan kegiatan yang dilakukan dengan sengaja agar anak didik memiliki sikap dan kepribadian yang baik, sehingga penerapan pendidikan harus diselengggarakan sesuai dengan Sistem Pendidikan Nasional berdasarkan UU No. 20/ 2003.
Kegiatan belajar merupakan proses pendidikan di sekolah. Ini berarti bahwa berhasil tidaknya pencapaian tujuan pendidikan banyak bergantung kepada bagaimana pencapaian taksonomi pendidikan yang dialami siswa yang mencakup aspek kongnitif, afektif dan psikomotorik. Dalam suatu lembaga pendidikan keberhasilan proses belajar mengajar dapat di lihat juga dari prestasi belajar yang dicapai oleh peserta didik. Pendapat ini diungkapkan Fatimah (2011: 95) dalam majalah ilmiah mengatakan dalam konteks pembelajaran ada beberapa tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Salah satu tolak ukur yang digunakan adalah prestasi belajar yang mengacu pada pencapaian taksonomi pendidikan yang mencangkup aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik. Salah satu upaya yang menjadikan seseorang berprestasi adalah melakukan kegiatan yang berkelanjutan. Artinya, setelah seseorang menyadari potensi dirinya disuatu bidang maka ia akan terus menerus berusaha untuk mengembangkannya menjadi kemampuan utama. Seperti yang dikemukakan Dahlan (2008: 59) menyatakan prestasi adalah hasil dari usaha mengembangkan bakat secara terus menerus. Hasil belajar tersebut merupakan prestasi belajar peserta didik yang dapat diukur dari nilai siswa setelah mengerjakan soal yang diberikan oleh guru pada saat evaluasi dilaksanakan. Keberhasilan pembelajaran disekolah akan terwujud dari keberhasilan belajar siswa. Keberhasilan siswa dalam belajar dapat dipengaruhi oleh faktor dari dalam individu maupun dari luar individu. Menurut Ahmadi (2004: 138) prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi berbagai faktor yang mempengaruhinya baik dari dalam diri (faktor internal) maupun dari luar diri (faktor eksternal) individu. Faktor dari dalam individu, meliputi faktor fisik dan psikis, diantaranya adalah minat siswa.
Minat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara tetap dalam melakukan proses belajar. Sesuia dengan pendapat Menurut Slameto (2010: 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki minat terhadap kegiatan tertentu cenderung memberikan perhatian yang besar terhadap kegiatan tersebut. Tentunya dalam melaksanakan kegiatan dan usaha pencapaian tujuan perlu adanya pendorong untuk menumbuhkan minat yang dilakukan oleh guru, semangat pendidik dalam mengajar siswa berhubungan erat dengan minat siswa yang belajar. Apabila guru mempunyai semangat untuk memperhatikan dan memengenang kegiatan mengajar akan sangat mempengaruhi minat siswa terhadap materi yang diajarkan. Seorang guru tidak dapat membangkitkan minat siswa, jika guru tersebut tidak memiliki minat dalam memberikan materi pelajaran.

B. RUMUSAN MASALAH

1.      Apakah pengertian taksonomi (bloom) ?
2.      Apakah perbedaan taksonomi (bloom) dan revisi taksonomi (bloom) ?
3.      Apa tujuan pembelajaran menurut taksonomi (bloom) ?




BAB II
PEMBAHASAN

A.    PENGARTIAN TAKSONOMI (BLOOM)
Kata “taksonomi” diambil dari bahasa yunani “tassein” yang berarti untuk mengelompokan dan “nomos” yang berati aturan. Taksonomi dapat diartikan sebagai pengelompokan suatu hal berdasrkan hieraki (tingkatan) tertentu. Dimana taksonomi yang lebih tinggi bersifat lebih umum dan taksonomi yang lebih rendah besifat lebih spesifik.
Dalam biologi, taksonomi juga merupakan cabang ilmu tersendiri yang mempelajari penggolongan atau sistematika makhluk hidup. Sistem yang dipakai adalah penamaan dengan dua sebutan, yang dikenal sebagai tata nama binomial atau binomial nomenclature, yang diusulkan oleh Carl von Linne (Latin: Carolus Linnaeus), seorang naturalis berkebangsaan Swedia. Ia memperkenalkan enam hierarki (tingkatan) untuk mengelompokkan makhluk hidup. Keenam hierarki (yang disebut takson) itu berturut-turut dari tingkatan tertinggi (umum) hingga terendah (spesifik) adalah :
·    Phylum/Filum untuk hewan, atau Divisio/Divisi untuk tumbuhan
·    Classis/Kelas,
·    Ordo/Bangsa,
·    Genus/Marga, dan
·    Species/jenis.
Dalam cabang ilmu tanah (pedologi), taksonomi tanah dibuat berdasarkan sejumlah variabel yang mencirikan keadaan suatu jenis tanah. Karena klasifikasi awal tidak sistematis, pada tahun 1975 tim dari 'Soil Survey Staff' dari Departemen Pertanian Amerika Serikan (USDA) menerbitkan suatu kesepakatan dalam taksonomi tanah. Sejak saat itu, setiap jenis tanah paling sedikit memiliki dua nama. Meskipun nama baru sudah diberikan, nama lama seringkali masih dipakai karena aturan dari Soil Survey Staff dianggap terlalu rinci.
Dapat disimpulkan bahwa dalam pendidikan, taksonomi dibuat untuk mengklasifikasikan tujuan pendidikan. Dalam hal ini, tujuan pendidikan dibagi menjadi beberapa domain, yaitu: kognitif, afektif, dan psikomotor. Dari setiap ranah tersebut dibagi kembali menjadi beberapa kategori dan subkategori yang berurutan secara hirarkis (bertingkat), mulai dari tingkah laku yang sederhana sampai tingkah laku yang paling kompleks. Tingkah laku dalam setiap tingkat diasumsikan menyertakan juga tingkah laku dari tingkat yang lebih rendah. Taksonomi ini pertama kali disusun oleh Benjamin S. Bloom dan kawan-kawan pada tahun 1956, sehingga sering pula disebut sebagai "Taksonomi Bloom". Jadi taksonomi (bloom) adalah pengklasifikasian tujuan pendidikan dengan menyajikannya dalam bentuk hirarki. Tujuan penyajian ke dalam bentuk system klasifikasi hirarki ini dimaksudkan untuk mengkategorisasi hasil perubahan pada diri siswa sebagai hasil buah pembelajaran. Menurut Bloom perilaku individu dapat diklasifikasikan ke dalam 3 (tiga) ranah, yaitu:
1. Ranah kognitif; ranah yang berkaitan aspek-aspek intelektual atau berfikir/nalar, di dalamnya mencakup: pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), penerapan (application), penguraian (analysis), memadukan (synthesis), dan penilaian (evaluation)
2. Ranah afektif; ranah yang berkaitan aspek-aspek emosional, seperti perasaan, minat, sikap, kepatuhan terhadap moral dan sebagainya, di dalamnya mencakup: penerimaan (receiving/attending), sambutan (responding), penilaian (valuing), pengorganisasian (organization), dan karakterisasi (characterization)
3. Ranah psikomotor; ranah yang berkaitan dengan aspek-aspek keterampilan yang melibatkan fungsi sistem syaraf dan otot (neuronmuscular system) dan fungsi psikis. Ranah ini terdiri dari : kesiapan (set), peniruan (imitation), membiasakan (habitual), menyesuaikan (adaptation) dan menciptakan (origination). Taksonomi ini merupakan kriteria yang dapat digunakan oleh guru untuk mengevaluasi mutu dan efektivitas pembelajarannya.
B.     PERBEDAAN REVISI TAKSONOMI (BLOOM)
Pada 1990-an, Lorin Anderson merevisi taksonomi Bloom karena mencerminkan berbagai bentuk pemikiran yang merupakan proses aktif yang membutuhkan kata kerja yang lebih akurat. Pada awalnya Bloom mengklasifikan tujuan kognitif dalam enam level, yaitu pengetahuan (knowledge), pemahaman (comprehension), aplikasi (apply), analisis (analysis), sintesis (synthesis), dan evaluasi (evaluation) dalam satu dimensi, maka Anderson dan Kratwohl merevisinya menjadi dua dimensi, yaitu proses dan isi/jenis.
Pada dimensi proses, terdiri atas mengingat (remember), memahami (understand), menerapkan (apply), menganalisis (analyze), menilai (evaluate), dan berkreasi (create). Sedangkan
pada dimensi isinya terdiri atas pengetahuan faktual (factual knowlwdge), pengetahuan konseptual (conceptual knowledge), pengetahuan prosedural (procedural knowledge), dan pengetahuan metakognisi (metacognitive knowledge). Tingkat taksonomi Lorin Anderson sebagai berikut ( Pickard , 2007) :
1.      Mengingat       : kemampuan siswa untuk mengingat atau mengingat informasi
2.      Memahami      : kemampuan untuk menjelaskan ide-ide atau konsep
3.      Menerapkan    : kemampuan untuk menggunakan informasi dengan cara baru
4.      Menganalisis   : kemampuan untuk membedakan antara bagian yang berbeda
5.      Mengevaluasi  : kemampuan untuk membenarkan sikap atau keputusan
6.      Menciptakan   : kemampuan untuk menciptakan produk baru atau sudut pandang
Jadi perbedaan taksonomi (bloom) dengan revisi taksonomi (bloom) terletak pada pengklasifikasian tujuan dari taksonominya.
C.     TUJUAN PEMBELAJARAN TAKSONOMI (BLOOM)
Tingkatan-tingkatan tujuan tidak selaras dengan tingkatan-tingkatan nilai-nilai. Taksonomi Bloom merupakan hasil kelompok penilai di Universitas yang terdiri dari B.S Bloom Editor M.D Engelhart, E Frust, W.H. Hill dan D.R Krathwohl, yang kemudian di dukung oleh Ralp W. Tyler. Bloom merumuskan tujuan-tujuan pendidikan pada 3 tingkatan yaitu :
1.      Ranah kognitif
Ranah kognitif adalah ranah yang mencakup kegiatan mental (otak). Menurut Bloom, segala upaya yang menyangkut aktivitas otak adalah termasuk dalam ranah kognitif.  Ranah kognitif berhubungan dengan kemampuan berfikir, termasuk didalamnya kemampuan menghafal, memahami, mengaplikasi, menganalisis, mensintesis, dan kemampuan mengevaluasi. Tujuan aspek kognitif berorientasi pada kemampuan berfikir yang mencakup kemampuan intelektual yang lebih sederhana, yaitu mengingat, sampai pada kemampuan memecahkan masalah yang menuntut siswa untuk menghubungakan dan menggabungkan beberapa ide, gagasan, metode atau prosedur yang dipelajari untuk memecahkan masalah tersebut.
 Dengan demikian aspek kognitif adalah subtaksonomi yang mengungkapkan tentang kegiatan mental yang sering berawal dari tingkat pengetahuan sampai ke tingkat yang paling tinggi yaitu evaluasi. Masalah afektif dirasakan penting oleh semua orang, namun implementasinya masih kurang. Hal ini disebabkan merancang pencapaian tujuan pembelajaran afektif tidak semudah seperti pembelajaran kognitif dan psikomotor. Satuan pendidikan harus merancang kegiatan pembelajaran yang tepat agar tujuan pembelajaran afektif dapat dicapai. Dalam ranah kognitif itu terdapat enam aspek atau jenjang proses berfikir, mulai dari jenjang terendah sampai dengan jenjang yang paling tinggi. Keenam jenjang atau aspek yang dimaksud adalah:
·    Pengetahuan: mencakup ingatan akan hal-hal yang pernah dipelajari dan disimpan dalam ingatan. Hal-hal itu dapat meliputi fakta, kaidah, dan prinsip, serta metode yang diketahui. Pengetahuan yang disimpan dalam ingatan, digali pada saat dibutuhkan melalui bentuk ingatan yang mengingat (recall) atau mengenal kembali (recognition). Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “ siswa akan mampu menyebutkan nama semua sekretaris jendral PBB, sejak saat PBB mulai berdiri”, “siswa akan mampu menulis semua nama provinsi ditanah Indonesia, padapeta perbatasan daerah-daerah provinsi”.
·    Pemahaman: mencakup kemampuan untuk menangkap makna dan arti dari bahan yang dipelajari. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam menguraikan isi pokok dari suatu bacaan, mengubah data yang disajikan dlam bentuk tertentu kedalam bentuk lain, seperti rumus matematika kedalam bentuk kata-kata, membuat perkiraan tentang kecenderungan yang Nampak dalma data tertentu seperti dalam grafik. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari pada kemampuan (1). Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “ siswa akan mampu menguraikan, dalam kata-kata sendiri, garis-garis besar dalam nakah bahasa inggris”,  “siswa akan mampu meperkirakan jumlah kecelakaan lalu lintas selama lima tahun yang akan dating, berdasarkan data dalam grafik kecelakan lalu lintas selama lima tahun yang lalu, kalau situasi lalu lintas tetap sama”.
·    Penerapan: mencakup kemampuan untuk menerapkan suatu kaidah atau metode bekerja pada suatu khasus atau problem yang kongkrit dan baru. Adanya kemampuan dinyataka dalam aplikasi suatu metode kerja pada pemecahan problem baru. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi dari pada kemampuan (2), karena memahami suatu kaidah belum tentu membawa kemampuan untuk menerapkannya terhadap suatu khasus atau problem baru. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu menghitung jumlah liter cat yang dibutuhkan untuk mencat semua dinding disuatu ruang dan jumlah uang yang harus dikeluarkan. Data mengenai ukuran-ukuran ruang, kuantitas cat yang diperlukan untuk setiap m3 dan hardga cat perkaleng @2liter, disajikan”.
·    Analisis: mencakup kemampuan untuk merinci suatu kesatuan ke dalam bagian-bagian, sehingga struktur keseluruhan atau organisasinya dapat dipahami dengan baik. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam penganalisaan bagian-bagian pokok atau komponen-komponen dasar, bersama dengan hubungan atau relasi antara semua bagian itu. Kemampuan ini setingkat lebih tinggi daripada kemampuan (3), karena sekaligus harus ditangkap adanya kesamaan dan adanya pebedaan antara sejumlah hal. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu menempatkan suatu kumpulan bunga berjumlah 20 kuntum dalam empat kategori, menurut pilihannya sendiri”.
·    Sintesis: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu kesatuan atau pola baru. Bagian-bagian dihubungkan satu sama lain, sehingga terciptakan suatu bentuk baru. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam membuat  suatu rencana, seperti penyusunan satuan pelajaran atau proposal penelitian ilmiah, dalam mengembangkan suatu skema dasarsebagai pedoman dalam memberikan ceramah dan lain sebagainya kemampuan ini setingkat lebih daripada kemampuan (4), karena dituntut kriteria untuk menemukan pola dan struktur organisasi. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu memberikan uraian lisan tentang perlunya penataan P4, dengan berpegang pada suatu kerangka yang mengandung pembukaan, inti, ringkasan pembahasan dan kesimpulan”; “mahasiswa akan mampu menghasilkan dan merumuskan suatu hipotesis penelitian, berdasarkan sejumlah data tentang siswa yang drop-out disekolah dasar”.
·    Evaluasi: mencakup kemampuan untuk membentuk suatu pendapat mengenai sesuatu atau beberapa hal, bersama dengan pertanggung jawaban pendapat itu, berdasarkan criteria tertentu. Kemampuan itu dinyatakan dalam memberikan penilaian terhadap sesuatu, seperti penilaian terhadap penguguran kandungan berdasarkan norma moralitas, atau pernyataan pendapat terhadap sesuatu, seperti dalam menilat tepat-tidaknya perumusan suatu TIK, berdasarkan criteria yang berlaku dalam perumusan TIK yang baik. Kemampuan ini adalah tingkatan tertinggi, kaena mencakup semua kemampuan dalam (1) sampai (5). Misalnya TIK yang dirumuskan sebagai berikut :”mahasiswa FIP akan mampu mengandalkan evaluasi tertulis, terhadap contoh-contoh perumusan TK yang dberikan dalam (1) sampai (5) diatas , berdasarkan criteria yang berlaku bagi perumusan TIK yang baik.
2.      Ranah afektif
Ranah afektif adalah ranah yang berkaitan dengan sikap dan nilai. Ranah afektif mencakup watak perilaku seperti perasaan, minat, sikap, emosi, dan nilai. Beberapa pakar mengatakan bahwa sikap seseorang dapat diramalkan perubahannya bila seseorang telah memiliki kekuasaan kognitif tingkat tinggi. Ciri-ciri hasil belajar afektif akan tampak pada peserta didik dalam berbagai tingkah laku. Seperti: perhatiannnya terhadap mata pelajaran pendidikan agama Islam, kedisiplinannya dalam mengikuti mata pelajaran agama disekolah, motivasinya yang tinggi untuk tahu lebih banyak mengenai pelajaran agama Islam yang di terimanya, penghargaan atau rasa hormatnya terhadap guru pendidikan agama Islam dan sebagainya. Beberapa tingkatan dalam ranah afektif adalah sebagai berikut:
·    Penerimaan :  mencakup kepekaan akan adanya suatu perangsang dan kesediaan untuk memperhatikan rangsangan itu, seperti buku pelajaran atau penjelasan yang diberikan oleh guru. Kesediaan itu dinyatakan dalam memperhatikan sesuatu, seperti memandang gambar yang dibuat dipapan tulis atau mendengarkan jawaban teman sekelas atas pertanyaan guru. Namun perhatian itu masih pasif. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan rela memandangi pata geografi tanah Indonesia yang dipamerkan didepan kelas”.
·    Partisipasi: mencakup kerelaan untuk memperhatikan secara aktif dan berpartisipasi dalam suatu kegiatan. Kesediaan itu dinyatakan dalam memberikan suatu reaksi terhadap rangsangan yang disajikan, seperti membacakan dengan suara nyaring bacaan ang ditunjukan atau menunjuan minat dengan membawa pulang buku bacaan yang ditawarkan. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan rela berpartisipasi dalam upacara kenaikan bendera,dengan berdiri tegak dan menyanyikan lagu kebangsaan dengan volume suara penuh.
·    Penilaian: mencakup kemampuan untuk memberikan penilaian terhadap sesuatu dan membawa diri sesuai dengan penilaian itu. Mulai dibentuk suatu sikap: menerima, menolak atau mengabaikan; sikap itu dinyatakan dalam timgkah laku yang sesuai dan konsisten dengan sikap batin. Kemampuan itu dinyatakan dalam suatu perkataan atau tindakan, seperti mengungkapakan pendapat positif tentang pameran lukisan modern (apresiasi seni) atau mendatangi ceramah disekolah, yang diberikan oleh astronot Indonesia yang pertama. Perkataan atau tindakan itu tidak  hanya sekali saja, tetapi diulang kembali bila kesempatanya timbul; dengan demikian, nampaklah adanya suatu sikap tertentu. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut “Siswa akan menunjukan sikap positif terhadap belajar kelompok, dengan cara mempersiapkan sejumlah pertanyaan secara tertulis, mendatangi pertemuan kelompok secar rutin dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan belajar”.
·    Organisasi :mencakup kemampuan untuk membentuk suatu system nilai sebagai pedoman dan pegangan dalam kehidupan. Nilai-nilai yang diakui dan diterima ditempatkan pada suatu skala nilai: mana yang pokok dan selalu harus diperjuangkan, mana tidak begitu penting. Kemampuan itu dinyatakan dalam mengembangkan suatu perangkat nilai, seperti menguraikan bentuk keseimbangan yang wajar kebebasan dan tangung jawab dalam suatu Negara demokrasi atau menyusun rencana masa depan atas dasar kemampuan belajar, minat dan cita-cita hidup. Misalkan, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: ” mahasiswa akan mampu menguraikan, secara tertulis, bentuk keseimabangan yang wajar antara kewajiban pimpinan sekolah untuk  untuk mengatur kurikulum sekolah menurut kebuutuhan setempat dan kewajiban pimpinan sekolah untuk melaksanakan GBPP yang ditetapkan secara nasional”. Organsasin mengandung unsure kognitif sebagai dasar untuk bertindak.
·    Pembentukan pola hidup : mencakup kemampuan untuk mengahayati nilai-nilai kehidupan sedemikian rupa , sehingga menjadi milik pribadi (internalisasi) dan menjadi pegangan nyata dan jelas dalam mengatur kehidupanya sendiri. Orang telah memiliki suatu perangkat nilai yang jelas hubunganya satu sama lain, yang menjadi pedoman dalam bertindak dan konsisten selama kurun waktu cukup lama. Kemampuan itu dinyatakan dalam pengaturan hidup diberbagai bidang, seperti mencurahkan waktu secukupnya pada tugas belajar/bekerja tugas membina kerukunan keluarga, tugas beribadah, tugas menjaga kesehatan dirinya sendiri dan lain sebagainya. Kemampuan yang demikian ini, kiranya sulit untuk dituangkan untuk suatu TIK, karena mengandung unsure kebiasaan yang baru dibentuk setelah waktu yang cukup lama, misalnya kemampuan untuk menunjukan kerajinan, ketelitian dan disiplin dalam kehidupan pribadi. Harus diakui bahwa penggolongan ini masih bertumpang tindih diantara tahap dan dengan ranah kognitif, dan cenderung mengikuti fase-fase dalam perkembangan moral seorang anak darikecil sampai dewasa.
3.      Ranah psikomotorik
Ranah psikomotor merupakan ranah yang berkaitan dengan keterampilan (skill) tau kemampuan bertindak setelah seseorang menerima pengalaman belajar tertentu. Ranah psikomotor adalah ranah yang berhubungan dengan aktivitas fisik, misalnya lari, melompat, melukis, menari, memukul, dan sebagainya. Hasil belajar ranah psikomotor dikemukakan oleh Simpson (1956) yang menyatakan bahwa hasil belajar psikomotor ini tampak dalam bentuk keterampilan (skill) dan kemampuan bertindak individu. Hasil belajar psikomotor ini sebenarnya merupakan kelanjutan dari hasil belajar kognitif (memahami sesuatu)  dan hasil belajar afektif (yang baru tampak dalam bentuk kecenderungan-kecenderungan berperilaku). Ranah psikomotorik ini dikembangkan oleh simpson yang terdiri dari beberapa tingkatan antara lain:
·    Presepsi : mencakup kemampuan untuk mengadakan diskriminasi yang tepat antara dua perangsang atau lebih, berdasarkan pembedaan antara cir-ciri fisik yang khas pada masing-masing rangsangan. Adanya kemampuan ini dinyatakan dalam suatu reaksi yang menunjukan keasadaran akan hadirnya rangsangan (stimulasi) dan perbedaan antara seluruh rangsangan yang ada, seperti dalam menyisihkan benda yang berwarna merah dari yang berwarna hijau. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu membedakan antara bentuk huruf d dan g atau antara angka 6 dan 9, yang ditulis di papn tulis
·    Kesiapan : mencakup kemampuan untuk menempatkan dirinya dalam keadaan akan memulai suatu gerakan atau rangkaian gerakan. Kemampuan ini dinyatakan dalam bentuk kesiapan jasmani dan mental, seperti dalam mempersiapkan diri untuk menggerakan kendaraan yang ditumpangi, setelah menunggu beberapa lam didepan lampu lintas yang berwarna merah. Misalnya, TIK yang untuk sebagian dirumuskan sebagai berikut: “siswa akan mampu mengambil posisi tubuh yang tepat, sebelum meninggalkan garis start dalam perlombaan lari cepat”.
·    Gerakan terbimbing : mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik, sesuai dengan contoh yang diberikan (imitasi). Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakan anggota tubuh, menurut contoh yang diperlihatkan atau diperdengarkan, seperti dalam meniru urutan gerakan tarian atau dalam meniru suara bayi. Misalnya, TIK yang dirumuskan sebagai berikut: “Siswa akan mampu membuat lingkaran diatas kertas secara tepat dngan mengunakan sebuah jangka; sesuai dengan contoh yang diberikan oleh guru dipapan tulis”
·    Gerakan yang terbiasa : mencakup kemampuan untuk melakukan suatu rangkaian gerak-gerik dengan lancer, karena sudah dilatih secukupnya, tsnps memperhatikan contoh yang diberikan. Kemampuan ini dinyatakan dalam mengerakan anggota/ bagian tubuh, sesuai dengan prosedur yang tepat, seperti dalam mengerakan kaki, lengan dan tangan secara terkoordinasi. Misalnya, TIK yang dirumuskan sebagai berikut: “ siswa akan mampu melompat dan menitipkan boal volley dalam net selama 10 menit, dengan membuat kesalahan maksimal 5 kali”.
·    Gerakan kompleks: mencakup kemampuan untuk melaksanakan suatu keterampilan, adanya kemampuan ini dinyatakan dinyatakan dalam suatu rangkaian perbuatan yang berurutan  dan mengabungkan beberapa  sub keterampilan menjadi suatu keseluruhan gerak-gerik yang teratur, seperti dalam mmbongkar mesin mobil dalam bagian-bagiannya dan memasangkan kemvbali. Misalnya, TIK yang dirumuskan sebagai berikut: “Siswa akan mampu membuat sebuah sekrup yang panjangnya 3 cm dan tebalnya ¼ cm, dalam waktu setengah jam, dengan menggunakan mesin listrik di bengkel”.
·       Penyesuaian pola gerakan : mencakup kemampuan untuk mengadakan perubahan dan penyesuaian pola geraik-gerik dengan kondisi setempat atau dengan menunjukan suatu taraf keterampilan yang telah mencapai kemahiran, misalnya seorang pemain tenis yang menyesuaikan pola permainannya dengan gay bermain dari lawanya atau dengan kondisi lapangan. Taraf kemahiran ini jarang akan tercapai dalam mengajar satu TIK saja.
·    Kreatvitas : mencakup kemampuan untuk melahirkan aneka pola gerak-gerik yang baru, seeluruhnya atas dasar prakarsa dan inisiatif sendiri. Hanya sosok orang yang berketrampilan tinggi dan berani berpikir kreatif , akan mampu mencapai tingakt kesempurnaan ini, seperti kadang-kadang dapat disaksikan dalam pertunjukan tarian dilapisan es dengan diiringi musik instrumental.
Selain sympson, Dave (1967) dalam penjelasannya mengatakan bahwa hasil belajar psikomotor dapat dibedakan menjadi lima tahap yaitu :
·   Imitasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana dan sama persis dengan yang dilihat atau diperhatikan sebelumnya. Contohnya, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat karena pernah melihat atau memperhatikan hal yang sama sebelumnya.
·   Manipulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan sederhana yang belum pernah dilihat tetapi berdasarkan pada pedoman atau petunjuk saja. Sebagai contoh, seorang peserta didik dapat memukul bola dengan tepat hanya berdasarkan pada petunjuk guru atau teori yang dibacanya.
·   presisi adalah kemampuan melakukan kegiatan-kegiatan yang akurat sehingga mampu menghasilkan produk kerja yang tepat. Contoh, peserta didik dapat mengarahkan bola yang dipukulnya sesuai dengan target yang diinginkan.
·   artikulasi adalah kemampuan melakukan kegiatan yang komplek dan tepat sehingga hasil kerjanya merupakan sesuatu yang utuh. Sebagai contoh, peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan. Dalam hal ini, peserta didik sudah dapat melakukan tiga kegiatan yang tepat, yaitu lari dengan arah dan kecepatan tepat serta memukul bola dengan arah yang tepat pula.
·   naturalisasi adalah kemampuan melakukan kegiatan secara reflek, yakni kegiatan yang melibatkan fisik saja sehingga efektivitas kerja tinggi. Sebagai contoh tanpa berpikir panjang peserta didik dapat mengejar bola kemudian memukulnya dengan cermat sehingga arah bola sesuai dengan target yang diinginkan.
Selain beberapa aspek diatas keberhasilan belajar juga sangat dipengaruhi oleh minat belajar siswa. Minat merupakan suatu kegiatan yang dilakukan oleh siswa secara tetap dalam melakukan proses belajar. Sesuai dengan pendapat Menurut Slameto (2010: 57) minat adalah kecenderungan yang tetap untuk memperhatikan dan mengenang beberapa kegiatan. Kegiatan yang diminati siswa, diperhatikan terus-menerus yang disertai rasa senang dan diperoleh rasa kepuasan. Lebih lanjut dijelaskan minat adalah suatu rasa suka dan ketertarikan pada suatu hal atau aktivitas, tanpa ada yang menyuruh. Seseorang yang memiliki minat terhadap kegiatan tertentu cenderung memberikan perhatian yang besar terhadap kegiatan tersebut. Tentunya dalam melaksanakan kegiatan dan usaha pencapaian tujuan perlu adanya pendorong untuk menumbuhkan minat yang dilakukan oleh guru, semangat pendidik dalam mengajar siswa berhubungan erat dengan minat siswa yang belajar. Apabila guru mempunyai semangat untuk memperhatikan dan memengenang kegiatan mengajar akan sangat mempengaruhi minat siswa terhadap materi yang diajarkan. Seorang guru tidak dapat membangkitkan minat siswa, jika guru tersebut tidak memiliki minat dalam memberikan materi pelajaran matematika.





















BAB III
PENUTUP
A.KESIMPULAN
Berdasarkan pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Taksononomi ialah yang berhubungan dengan kegiatan pendidikan sehari- hari yang di maksud pendidikan sehari-hari ialah pendidikan dalam bentuk tingkah laku. Ada tiga macam tingkah laku yang kita kenal secara umum  yaitu :
1.      Kognitif
2.      Afektif
3.      Prikomotor.
Dari ketiga inilah muncul  pengertian taksonomi yang kemudian dirumuskan oleh Benjamin S.Bloom yang kita kenal sekarang dengan sebutan taksonomi Bloom. Dalam hal ini Bloom membagi tujuan pendidikan menjadi beberapa domain (ranah, kawasan) dan setiap domain tersebut dibagi kembali kedalam pembagian yang lebih rinci berdasarkan  hirarkinya.
Belajar yang dilaksanakan oleh siswa diharapkan dapat mengembangkan prestasi belajar siswa tersebut, Karena prestasi merupakan tolak ukur pencapaian aspek-aspek yang bersifat kongnitif, afektif dan psikomotorik sesuai dengan pendapat Fatimah (2011: 95) dalam majalah ilmiah mengatakan “dalam konteks pembelajaran ada beberapa tolak ukur yang dapat digunakan untuk mengetahui prestasi belajar siswa. Salah satu tolak ukur yang digunakan adalah prestasi belajar yang mengacu pada pencapaian taksonomi pendidikan yang mencangkup aspek kognitif,afektif, dan psikomotorik”. Dan dipertegas oleh Nana Sudjana dalam Fatimah (2011: 95) menyatakan bahwa pencapaian prestasi belajar atau hasil belajar siswa merujuk pada pencapaian aspek-aspek yang bersifat kognitif, afektif, dan psikomotorik. Ditinjau dari segi aspek perubahan yang ingin dicapai, prestasi belajar setidaknya dapat dideskripsikan menjadi beberapa aspek pengetahuan atau pemahaman, aspek keterampilan, aspek nilai dan aspek sikap. Prestasi belajar yang dicapai seseorang merupakan hasil interaksi antar lingkungan, keluarga dan masyarakat.
B. SARAN
1. Bagi siswa
            Bagi siswa khususnya, diharapkan untuk dapat memahami pengklasifikasian pembelajaran secara kognitif, afektif, dan psikomotirik agar siswa mampu merealisasikan kedalam proses belajar mengajar.
2. Bagi guru
            Guru dihendaknya dapat mengetahui minat belajar siswa dalam belajar sedini mungkin, sebagai langkah awal membina dan meningkatkan prestasi belajar siswa.
3. Bagi peneliti berikutnya
Untuk dapat mengembangkan permasalahan yang ada mengenai taksonomi dalam pemndidikan dengan lebih banyak bahan sebagai rujukan, sehingga informasi-informasi tersebut dapat dimanfaatkan oleh masyarakat khususnya pendidik dalam meningkatkan taraf pandidikan.














DAFTAR PUSTAKA
Jurnal Formatif 2(2): 122-131 ISSN: 2088-351X / Roida E.F.S. /
PENGARUH MINAT DAN KEBIASAAN BELAJAR SISWA
TERRHADAP PRESTASI BELAJAR
Majid Abdul, (2013), PERENCANAAN PEMBELAJARAN MENGEMBANGKAN STANDAR KOMPETENSI GURU, Bandung : Rosda